Pesta Seks Dengan Gadis SMA

Pesta Seks Dengan Gadis SMAby Superadminon.Pesta Seks Dengan Gadis SMAHari sudah lewat pukul 12.00. Aku sedang bergegas untuk pergi makan siang ketika handphoneku berbunyi. Kulihat di layar tampak sebuah nomor yang tidak aku kenal. “Ya hallo..” sapaku. “Pagi Pak Robert.. Ini Dian.. Masih ingat khan ” “Oh Dian.. Ya masih donk..” “Pak sudah terima surat lamarannya?” “Iya sudah.. Sekarang sedang diproses. Kamu sabar saja […]

cerita dewasa

Hari sudah lewat pukul 12.00.
Aku sedang bergegas untuk
pergi makan siang ketika
handphoneku berbunyi. Kulihat
di layar tampak sebuah nomor
yang tidak aku kenal.
“Ya hallo..” sapaku.
“Pagi Pak Robert.. Ini Dian..
Masih ingat khan ”
“Oh Dian.. Ya masih donk..”
“Pak sudah terima surat
lamarannya?”
“Iya sudah.. Sekarang sedang
diproses. Kamu sabar saja ya
sayang..” jawabku sambil
berjalan keluar ruangan
kantorku.
“Tolong Dian ya Pak supaya
diterima” pinta Dian di
seberang sana.
“Beres Dian. Asal kamu ingat
saja.. Apa yang saya suka dari
kamu”
“Pasti Pak.. Saya tidak akan
mengecewakan bapak. Segala
perintah Pak Robert akan saya
penuhi” Dian menjawab dengan
antusias.
Bagi pembaca yang belum
membaca kisahku sebelumnya,
Dian ini adalah gadis salon yang
pernah aku kencani.
Mendengar suaranya di telpon
membuat kenangan ketika aku
menikmati tubuh mungilnya
serta buah dadanya yang
ranum kembali terbayang. Ahh
mungkin nanti sehabis pulang
kantor aku akan mampir di
salonnya, pikirku.
Ketika aku hendak keluar
kantor, kulihat Noni
resepsionisku di lobby. Tampak
cantik sekali dia hari itu,
dengan blazer warna coklat
dipadu dengan rok yang
sewarna. Mungkin karena aku
sedang ereksi membayangkan
persetubuhanku dengan Dian,
kuurungkan niatku untuk
keluar kantor dan aku berbalik
menuju ruangan kantorku
kembali.Abg montok kaya raya main vibrator bikin memek becek total
“Noni sebentar ke sini”
perintahku lewat telpon.
“Ada.. Apa pakk..” jawabnya
agak gugup
“Pokoknya sebentar ke sini.
Cepat!!” perintahku lagi dengan
suara agak kutinggikan.
“Babbaikk. Pak”
Mungkin dia sudah tahu apa
yang akan terjadi pada dirinya
sebentar lagi. Aku memang
kadang memanggilnya ke
ruanganku sekedar untuk
memuaskan hasrat birahiku.
Biasanya aku melakukannya
sehabis jam kerja, ketika
kantor telah sepi. Tapi
terkadang aku memanggilnya
untuk sekedar seks kilat agar
dapat meredakan
keteganganku, yang dapat
membuat konsentrasi kerjaku
terganggu.
Nonipun tak lama telah muncul
di ruanganku. Setelah kusuruh
mengunci pintu, aku
perintahkan dia untuk duduk di
sofa tamu. Wajahnya yang
cantik tampak pasrah dengan
keadaan yang mengharuskan
dia untuk menjadi sarana
pelampiasan nafsu kelelakianku.
Kuelus-elus pundaknya, dan
kukecup pipinya.
“Kamu sudah berani kurang
ajar ya.. Bikin saya
terangsang.. Kamu harus
tanggung jawab!” kataku sambil
menjambak rambutnya gemas.
“Ehh..” hanya itu erangan yang
keluar dari mulut Noni ketika
rambutnya kutarik, sehingga
aku dapat leluasa menciumi
bibirnya yang indah.
Tangankupun segera melucuti
kancing bajunya. Kuturunkan
ke bawah cup BHnya sehingga
buah dada Noni mencuat
keluar. Kujilati dengan ganas
buah dadanya yang
membusung itu, sambil
terkadang kuisap-isap
putingnya. Nonipun kembali
mengerang tertahan, seperti
suara orang menangis.
Sementara perutku sudah
mulai keroncongan. Sambil
terus menikmati buah dada
resepsionis cantikku ini, kulihat
jam tangan Rolexku. Wah sudah
jam 12.30, pantas aku sudah
lapar, pikirku. Akupun ingin
cepat-cepat ejakulasi sehingga
dapat segera pergi makan
siang.
Segera aku berdiri agak
menyamping menghadap Noni
yang masih duduk di sofa.
Kubuka celanaku berikut celana
dalamnya, sehingga kemaluanku
melonjak keluar hampir
mengenai wajahnya. Kurangkul
kepala Noni dengan tangan
kiriku, sementara tangan
kananku menyorongkan
kemaluanku untuk dihisapnya.
Rasa hangat yang nikmat
segera menjalar ditubuhku
ketika kemaluanku menerobos
mulutnya. Nonipun menghisapi
kemaluan bosnya seperti
seorang budak seks yang
patuh.
“Ya.. Begitu.. Pintar kamu..”
kataku memujinya, saat kulihat
kepalanya yang maju mundur
mengulum kemaluanku.
“Mentang-mentang cantik
sudah berani merangsang ya..
Ayo isap terus.. Yeeah you
little slut..” racauku lagi sambil
meremasi rambutnya.
Beberapa saat kemudian
kulihat lagi jam tanganku,
sekarang sudah jam 12.45,
sementara entah mengapa
belum ada tanda-tanda
ejakulasi akan aku alami.
Mungkin karena terburu-buru,
malah membuat ejakulasiku
semakin lama. Sementara
perutkupun semakin
keroncongan.
Tak sabar, kutepis tangan Noni
yang memegang kemaluanku.
Lalu aku bergeser sedikit
sehingga tepat berada di
hadapannya. Kupegang dengan
erat kedua belah pipinya, dan
kugenjot kemaluanku ke dalam
mulutnya. Semakin lama
semakin cepat aku pompa
mulut resepsionis ABGku ini
sampai diapun tersedak-sedak.
Kucabut keluar sebentar
kemaluanku, sehingga Noni
dapat mengambil nafas, lalu
kembali kuhujamkan ke dalam
rongga mulut dan
kerongkongannya. Tampak air
mata membasahi pipinya yang
aku pegang erat.
“Hek.. Hek..” terdengar suara
Noni mengerang menahan
desakan kemaluanku di
mulutnya.
“Ha.. Ha.. Dasar ABG.. Suka
kontol kamu ya.. Enak khan
kontol besar.. Pacarmu sudah
jelek, kontolnya kecil pula..
Kasihan deh kamu” kataku
melihat dia tersedak-sedak.
Kucabut kembali kemaluanku
untuk memberinya waktu
untuk mengambil nafas, dan
kemudian kupompa kembali ke
dalam mulutnya. Tak lama aku
merasakan hampir mencapai
orgasme. Kucabut kembali
kemaluanku.
“Ayo sekarang hisap perlahan..
Yang lembut” perintahku.
Nonipun kembali dengan
patuhnya menghisapi
kemaluanku. Kali ini dia yang
memaju mundurkan kepalanya
saat mulutnya disesaki oleh
kemaluanku. Sementara
tangannya memegang pangkal
batangnya.
“Jangan pakai tangan!!” kataku.
Nonipun dengan cepat seperti
ketakutan melepaskan
pegangannya.
“Lihat sini dong.. Gimana sih!!”
tegurku ketika dia
memejamkan matanya ketika
mengulum kemaluanku. Nonipun
membuka matanya dan
menatap ke atas, ke arahku.
Rasa puas hinggap di sekujur
tubuhku dapat mengerjai
karyawan cantik seperti Noni
ini. Sambil berkacak pinggang
kuperhatikan Noni dengan
lembut menghisapi kemaluanku.
Beberapa saat kemudian,
ejakulasiku sudah tak tertahan
lagi. Kupegang dengan erat
kembali kepala Noni, dan
kuhujamkan kemaluanku ke
dalam kerongkongannya. Aku
tak mau spermaku membasahi
pakaianku.
Kulirik jam tanganku. Jam 1.05
siang. Akupun bergegas
membenahi pakaianku.
“Ayo cepat.. Cepat!!” perintahku
pada Noni yang masih menyeka
bibirnya dengan tisu. Diapun
segera membereskan BHnya
dan menutup kancing bajunya.
Kamipun keluar ruangan
kantorku.
*****
Kuparkir mobil Mercy metalikku
di basement sebuah mal yang
tak begitu jauh dari kantorku.
Beberapa waktu yang lalu
sebuah bom meledak di depan
hotel tak jauh dari mal
tersebut. Semoga saja kali ini
tak terjadi hal seperti itu.
Kubergegas menuju restoran
steak kesukaanku. Setelah
makan di restoran franchise
dari Afrika Selatan itu,
badankupun kembali segar.
Pikirankupun kembali cerah,
terlebih setelah aku sempat
memuaskan dahaga seksualku
tadi di kantor. Akupun
memutuskan jalan-jalan
sejenak di mal sebelum kembali
ke kantor, sekalian untuk
membeli HP keluaran terbaru.
Di salah satu lantai mal itu,
banyak terdapat counter
penjualan handphone. Akupun
mampir ke salah satu counter,
dan mencoba salah satu HP
terbaru. Salah satu kelebihan
dari HP ini adalah video
recordernya yang dapat
merekam hingga 4 menit.
Sedangkan punyaku hanya bisa
standard saja, kurang lebih 10
detik. Kuputuskan untuk
membeli HP ini, dan sementara
petugas counter telpon itu
mengurus pembelianku, kulihat
di counter sebelah, duduk dua
orang gadis berseragam SMA.
Mereka kadang melirik ke
arahku, dan yang seorang
tersenyum ketika mata kami
saling beradu pandang.
Kubalas senyum gadis tersebut.
Dia berparas tidak terlalu
cantik, tetapi cukup manis.
Berambut panjang, dengan
kulit sawo matang dan badan
yang sexy. Badannya tampak
sintal dibalut seragam putih
abu-abunya. Tampak buah
dadanya yang membusung
menantang. Sementara
Temannya berparas cantik,
berkulit putih, dengan badan
yang juga sexy walaupun buah
dadanya tidak sebesar gadis
yang pertama. Sekilas
wajahnya mirip dengan bintang
sinetron remaja di televisi.
Sebenarnya aku tidak begitu
“in the mood” untuk berkencan
dengan kedua gadis tersebut.
Maklum, baru saja aku
mencapai orgasme menggarap
resepsionisku. Tapi ketika aku
beranjak akan pulang dan
melewati mereka, tiba-tiba
saja kudengar seseorang
bicara.
“Hey.. Oom.. Beliin kita pulsa
dong..”. Kutengok ternyata si
gadis berkulit sawo matang itu
yang bicara.
“Pulsa kita sudah habis Oom..
Tolong dong.. Oom baik deh”
sambungnya lagi.
“Hus..” temannya yang cantik
berkulit putih tampak sungkan
dengan perkataan temannya.
Roknya yang agak mini
memperlihatkan keindahan
pahanya yang mulus berbulu
halus. Dari celah baju
seragamnya terlihat sekilas
buah dadanya yang cukup
besar terbungkus BH berwarna
krem. Melihat pemandangan
indah ini, berubah pikiranku.
Ingin rasanya aku berkencan
dengan mereka, terutama si
cantik berkulit putih ini.
“Kenalan dulu dong..” jawabku.
Mereka kemudian satu per
satu memperkenalkan diri. Si
gadis berkulit sawo matang
bernama Desi, sedangkan
temannya bernama Putri.
Memang cocok dengan
wajahnya yang cantik seperti
seorang puteri. Akupun
kemudian membelikan mereka
pulsa isi ulang seperlunya.
Mereka tampak girang.
“Makasih ya Oom.. Si Putri
sekarang bisa nelpon pacarnya
lagi”, kata Desi menggoda
temannya.
“Iih..” Putri mencubit temannya
itu sambil tertawa.
Memang dunia remaja itu
menyenangkan. Mereka sangat
ceria menikmati masa mudanya,
belum terlalu memikirkan hal-
hal yang terlalu serius. Just
having fun, mungkin itu motto
mereka. Akupun membatalkan
rencanaku untuk kembali
kekantor. Kuajak dua gadis
SMA ini menemaniku jalan-jalan
di mal tersebut.
“Oom beliin kita baju donk.”.
Kembali Desi merengek.
Memang si Desi ini lebih banyak
omong, dan yang pasti lebih
matre dibandingkan dengan
Putri. Tetapi karena tidak
mungkin memisahkan mereka
berdua, aku ikuti saja
kemauannya. Semakin
berhutang budi mereka
padaku, semakin besar
kesempatanku untuk menikmati
tubuh belia mereka.
Selesai shopping, kuajak
mereka ke sebuah cafe di mal
tersebut. Maksudku agar kita
dapat berbincang-bincang
supaya lebih akrab. Kupesan
coffee latte buatku dan
mereka memesan soft drink
serta tiramisu. Kamipun
berbincang-bincang panjang
lebar.
Mereka masing-masing berusia
18 tahun, dan kelas dua
sebuah SMA negeri. Dua-
duanya adalah anggota
cheerleader sekolah tersebut.
Desi mengaku sedang tidak
punya pacar, sedangkan Putri
sudah punya seseorang. Desi
sering menggoda kalau Putri
adalah bunga SMAnya. Banyak
yang mengejar-ngejarnya
untuk dijadikan pacar.
“Bohong tuh Oom.. Jangan
percaya..” kata Putri sambil
merengut lucu ke arah Desi.
“Oom sih percaya.. Habis kamu
cantik sih..” jawabku.
“Mirip ini lho.. Siapa sih yang di
TV itu.. Oom pernah nonton
sinetronnya.”
“Oh.. Masayu Anastasia..
Memang mirip kok Oom..” jawab
Desi.
“Mungkin kembar.. Cuma yang
satu jadi bintang sinetron..
Yang ini jadi bintang mal..”
Kamipun tertawa mendengar
celetukkan Desi. Sampai-sampai
beberapa orang di cafe
tersebut menengok ke arah
kami. Beberapa pria tampak
melihat dengan bernafsu
kepada kedua gadis ini,
terutama pada Putri. Sesudah
bosan berada di cafe tersebut,
kuajak mereka jalan-jalan
keluar. Kamipun berjalan
menuju tempat parkir di
basement.
“Wow.., mobilnya keren banget
Oom.. Sama kaya orangnya”
kata Desi setelah kami sampai
di mobilku.
Kubuka pintu mobilku dan
Desipun duduk di kursi depan
di sebelahku. Aku agak kecewa
karena sebenarnya aku ingin
Putri yang duduk di situ. Tak
lama kamipun meluncur
meninggalkan mal tersebut.
Sesekali kulirik lewat kaca
spionku, Putri yang sedang
duduk dibelakang. Tampak dia
menyadari kalau aku
perhatikan, dan dia hanya
tersenyum tersipu.
“Mau kemana nih?” tanyaku
membuka percakapan setelah
suasana hening sejenak.
“Terserah Oom aja deh” sahut
Desi. Memang Desi ini
kelihatannya lebih bandel dan
berani.
“Oom capek nih.. Gimana kalau
kita istirahat dulu di motel?”
“Desi sih Ok aja. Put, gimana
loe?”
“Nggak ah.. Putri ada janji
sama cowok Putri nih”
Aku sangat kecewa
mendengarnya. Yang aku incar
Putri, malah dapatnya Desi.
“Sebentar aja deh.. Kasihan
khan Desi sendirian” kataku.
“Iya Put.. Gimana sih loe..
Gampang deh loe cari alasan
aja” tukas Desi lebih lanjut.
Karena tidak ada jawaban dari
Putri, kuanggap saja dia setuju
untuk menemani Desi dan aku
beristirahat di motel. Tak lama
kami sudah sampai di motel
langgananku. Desi dan aku
turun di garasi dan menuju
kamar.
“Gue tunggu di mobil aja ya
Des”
“Duh gimana sih.. Udah deh loe
ikut aja. Di dalam loe diam aja
juga nggak apa kok” jawab
Desi.
Akhirnya kami bertiga masuk
ke dalam kamar motel itu.
Seperti biasa, petugas motel
datang untuk menarik
pembayaran. Aku membook
untuk 6 jam seperti biasa.
Setelah petugas motel pergi
aku merebahkan diriku di atas
ranjang. Putri tampak duduk di
kursi yang tersedia di pojok
kamar. Sementara Desi pergi
ke kamar kecil.
Setelah muncul kembali, Desi
kemudian ikut rebahan di
ranjang bersamaku.
Kulingkarkan tanganku pada
pundaknya dan kuelus-elus dia.
Tak ada rotan akarpun jadi,
pikirku. Toh Desi juga lumayan
manis dan badannyapun sexy.
Tak lama akupun sudah
menciumi bibirnya sambil
tanganku meraba-raba
dadanya.
“Put.. Sini donk.. Nggak apa
cowok loe nggak bakal tau ”
ajak Desi.Ngentot Janda dan Anaknya Sampe Bajir Orgasme
“Nggak ah.. Des.. Gimana sih gue
ditungguin cowok gue nih”
jawabnya sambil mengambil HP
dari tas sekolahnya.
“Udah deh loe telpon aja.. Cari
alasan apa kek”
Putri kemudian tampak
menelpon pacarnya. Sayup-
sayup kudengar suaranya
mengatakan kalau dia sedang
ada tugas sekolah. Tak
kudengar percakapan
selebihnya karena Desi sudah
menciumiku penuh gairah.
Kubuka baju sekolah Desi dan
sekalian kubuka pengait BHnya.
Begitu kuloloskan penutup
dadanya, gumpalan daging
kenyal Desi tampak begitu
menggoda. Langsung kuciumi
dan kujilati buah dada itu
dengan rakus. Kuhisap-hisap
putingnya sambil mataku
menatap Putri yang tampak
termangu menyaksikan
sahabatnya sedang aku gumuli.
Kubuka juga rok abu-abu Desi
sehingga tampak celana
dalamnya yang berwarna hitam
berenda. Kusibakkan celana
dalam itu, sehingga jariku
dapat meraba bibir vaginanya.
Desipun melenguh nikmat
ketika jariku menemukan
klitorisnya. Sementara itu,
mulutku masih dengan rakus
menikmati buah dada gadis
SMA ini.
Desi yang sudah sangat
bernafsu kemudian berbalik
menindih tubuhku. Dengan
cepat dia melucuti kancing
kemejaku. Dihisapnya puting
dadaku satu persatu,
sementara tangannya melucuti
celanaku.
“Desi buka dulu ya Oom”
katanya sambil bangkit duduk
dan membuka seluruh
pakaianku.
Tak lama akupun tinggal
bercelana dalam, dan tampak
kepala kemaluanku mencuat
keluar tak mampu tertampung
di dalamnya.
“Ihh.. Besar sekali Oom.. Put..
Sini deh loe lihat.. Punya si Oom
gede banget” kata Desi sambil
mengelus-elus kemaluan dari
balik celana dalamku.
Desipun kemudian membuka
celana dalamku, dan
kemaluanku yang sudah
berontak tampak berdiri tegak
menjulang dengan gagahnya
dihadapan mata kedua gadis
remaja ini.
“Gila.. Gede banget.. Bikin Desi
nafsu..” kata Desi sambil
menundukkan kepalanya mulai
menjilati kemaluanku.
Desi menjilati kemudian
mengulum kemaluanku. Kulirik
tampak Putri melihat adegan
ini dengan muka yang
memerah, dan tangannya
tampak meraba-raba dadanya
tanda dia mulai terangsang.
“Put.. Bantuin gue dong..” kata
Desi sambil terus menghisapi
kemaluanku. Kuelus-elus
rambutnya yang panjang itu.
Kadang tanganku berpindah ke
dadanya yang sekal dan
kupermainkan puting susunya.
“Put.. Enak banget Put..” desah
Desi lebih lanjut sambil dia
menjilati kemaluanku. Putri
tampak sudah tak bisa lagi
menahan nafsunya melihat
sahabatnya sedang mengulum
kemaluanku. Dia bangkit dari
kursinya dan berjalan ke
arahku.
Putri merebahkan badannya di
sampingku. Langsung
kurengkuh wajahnya yang
cantik dan kuciumi dengan
penuh gairah. Tangankupun
bergerilya membuka kancing
baju seragamnya. Dadanya
yang putih bersih terbalut BH
warna krem sangat
mengundang hasrat siapapun
yang melihatnya. Tanpa tunggu
lebih lama lagi, aku langsung
membuka BHnya. Buah dada
Putripun tampak jelas di depan
wajahku. Bentuknya yang
padat dibalut oleh kulitnya
yang putih mulus membuatku
gemas. Kuciumi dan kuhisap
buah dadanya sambil sesekali
kujilat puting susunya yang
berwarna merah muda.
“Sstt.. Hah.. Sstt.. Hah ” Putri
mendesis ketika buah dadanya
yang ranum itu sedang
kunikmati sepuas hati.
Sementara itu, Desi masih sibuk
menjilati dan mengulum
kemaluanku. Terkadang
dihisapnya juga buah zakarku.
Tatkala mulutnya memberikan
kepuasan padaku, tangannya
tampak sibuk meremas-remas
buah dadanya sendiri. Setelah
aku puas menikmati buah dada
Putri, kudorong sedikit
tubuhnya ke arah
selangkanganku.
“Ayo isap punya Oom ya”
Tanpa menjawab, dia langsung
menciumi dan menjilati pahaku.
“Nih Put..” kata Desi sambil
mengeluarkan kemaluanku dari
mulutnya.
Tangan Putri yang halus
memegang batang kemaluanku.
Dipandangnya dengan gemas
kemaluanku, kemudian dia
menurunkan kepalanya dan
mulai menjilati kepala
kemaluanku. Tak lama, dia
sudah mengulum kemaluanku di
dalam mulutnya yang
memberikan kenikmatan luar
biasa padaku. Sementara
mulutnya mengulum, tangannya
mengocok-ngocok batang
kemaluanku.
Setelah beberapa lama,
diberikannya kembali
kemaluanku pada Desi. Dengan
sigap, Desipun kembali
menghisapi kemaluanku lagi.
Demikian berlangsung terus
menerus. Secara bergantian
Putri dan Desi menghisap
kemaluanku. Tampak
kemaluanku yang besar
menyesaki mulut kedua gadis
pelajar belia ini.
Putri kemudian berdiri dan
melepas pakaiannya. Tampak
vaginanya bersih tak ditutupi
rambut selembarpun. Dinaikinya
tubuhku dan tangannya
mengarahkan kemaluanku pada
liang vaginanya. Diturunkannya
tubuhnya dan kemaluankupun
mulai menerobos liang
vaginanya yang sempit.
“Ooh.. Des.. Besar banget nih si
Oom.. Ahh..” desah Putri ketika
kemaluanku telah berhasil
memasuki liang kemaluan gadis
remaja ini.
“Tapi enak khan..” tanya Desi
menggoda
“Iya sih.. Aduh.. Oh.. Sstt.. Hah..
Hah..” erangnya lagi ketika aku
mulai menggenjot vaginanya.
Tanganku memegang
pinggangnya sambil terus
kupompa liang nikmat gadis
cantik pelajar SMA ini.
Sementara Desi berpindah ke
sampingku dan menyodorkan
buah dadanya ke mulutku.
Dengan senang hati kunikmati
buah dadanya yang besar itu.
“Oom.. Gimana Oom.. Enak khan
ngentotin Putri?” tanya Desi
menggoda.
“Dia jarang lho mau begini.. Oom
beruntung banget” katanya
lebih lanjut.
Putri masih meliuk-liukan
tubuhnya. Akupun terus
menggenjot vaginanya dari
bawah, sambil sesekali
tanganku meremasi buah
dadanya yang berayun-ayun
menggemaskan. Setelah bosan
dengan posisi itu, aku
membalikkan tubuh Putri
sehingga kami berada pada
posisi missionary. Kugenjot
kemaluanku dalam vagina gadis
belia ini, sambil mulutku
menciumi wajahnya.
“Ehmm.. Sstt.. Oom.. Enak.. Ohh”
racau Putri ketika aku
menyetubuhi tubuh mulusnya.
“Ayo isap puting Oom”
perintahku. Putripun kemudian
menghisap puting dadaku
sementara aku terus memompa
kemaluannya.
Tak lama tubuh Putripun
mengejang, dan dia mengerang
dan menggelinjang
mendapatkan orgasmenya.
Kutarik kemaluanku dari
vaginanya, dan kuciumi Desi
yang berada di sebelahku.
Kulepas celana dalamnya, lalu
kuminta dia menungging
membelakangiku. Dengan gaya
doggy style kusetubuhi Desi
dari belakang.
“Aduh.. Oom.. Kuat banget..
Ohh..” erang Desi ketika aku
memompa kemaluannya.
Kulihat Putri tampak lemas
berbaring di ranjang
menyaksikan persetubuhanku
dengan Desi, sahabatnya.
“Oom.. Desi hampir sampai Oom..
Eh.. Eh..”
Tak lama tubuh Desipun
menggelinjang mendapatkan
orgasmenya. Masih kugenjot
kemaluan gadis SMA ini, sambil
sesekali kuremas buah dadanya
yang bergoyang-goyang
menantang. Aku merasakan
sebentar lagi akan ejakulasi.
Tak lama akupun menarik
kemaluanku dan menyemburkan
spermaku di bongkahan pantat
Desi yang bundar.
*****Adek Pacarku yg suka Nyepong kontolku
“Makasih ya Oom” kata mereka
ketika aku turunkan di halte
bus terdekat. Sebelumnya tak
lupa kami bertukar no HP
sehingga dapat kontak
sewaktu-waktu.
Dengan perasaan puas dan
bertambah muda, kubalikkan
arah mobilku di putaran jalan.
Karena hati sedang senang
sehabis menyetubuhi dua gadis
ABG, kuberikan uang lima
ribuan pada Mr. Cepek yang
sedang mengatur jalan.
“Makasih banyak bos” serunya
senang.
Kukebut mobilku pulang menuju
apartemenku. Tiba-tiba kuingat
kalau aku baru saja membeli
HP baru. Mengapa tidak
kupakai tadi untuk merekam
adegan persetubuhanku. Well..
There is always next time,
pikirku.
Lagu “So Good” nya Al Jarreau
mendayu-dayu dalam mobilku.
Lagu itu tepat sekali
menggambarkan perasaanku
saat itu. It is so damn good..

Author: 

Related Posts

Comments are closed.